Sabtu, 10 September 2022

BERHATI-HATILAH DENGAN ENAM PERKARA INI!

 


1. AL ISYTIGHAL BI 'UYUBIL KHALQI (Sibuk Dengan Aib Oranglain)


Sehingga lupa pada aibnya sendiri. Semut di seberang lautan kelihatan, sedang gajah di pelupuk mata tidak tampak.


2. QASWATUL QULUB (Hati Yang Keras)


Kerasnya hati terkadang lebih keras dari batu karang. Sulit menerima nasihat.


3. HUBBUD DUNYA (Cinta Dunia)


Merasa hidupnya hanya di dunia saja, maka segala aktivitasnya tertuju pada kenikmatan dunia sehingga lupa akan hari esok di akhirat.


4. QILLATUL HAYA' (Sedikitnya Rasa Malu)


Jika seseorang telah kehilangan rasa malunya, maka akan melakukan apa saja tanpa takut dosa.


5. THULUL 'AMAL (Panjang Angan-Angan)


Merasa hidupnya masih lama di dunia ini sehingga enggan untuk bertaubat.


6. ZHULMUN LA YANTAHI (Kezhaliman Yang Tak Pernah Berhenti)


Perbuatan maksiat itu biasanya membuat kecanduan bagi pelakunya, jika tidak segera bertaubat dan berhenti, maka sulit untuk meninggalkan kemaksiatan tersebut.

Tambah:

Allah Ta’ala berfirman,

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, kecuali di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Infithar ayat 10 – 12,

وَإِنَّ عَلَیۡكُمۡ لَحَـٰفِظِینَ كِرَامࣰا كَـٰتِبِینَ یَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ

“Padahal sesungguhnya bagi kalian ada (malaikat – malaikat) yang mengawasi, yang mulia dan mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Tafsir Ibnu Katsir , 7: 372)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَتَدْرُونَ ما الغِيبَةُ؟ قالوا: اللَّهُ ورَسولُهُ أعْلَمُ، قالَ: ذِكْرُكَ أخاكَ بما يَكْرَهُ قيلَ أفَرَأَيْتَ إنْ كانَ في أخِي ما أقُولُ؟ قالَ: إنْ كانَ فيه ما تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وإنْ لَمْ يَكُنْ فيه فقَدْ بَهَتَّهُ.

“Tahukah kalian apa itu gibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika sesuai kenyataan berarti Engkau telah menggibahnya. Jika tidak sesuai, berarti Engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَن نفَّسَ عن مُؤْمنٍ كُرْبَةً مِن كُرَبِ الدُّنيا؛ نفَّسَ اللهُ عَنه كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَوْمِ القِيامَةِ، ومَن ستَرَ مُسْلمًا ستَرَه اللهُ في الدُّنيا والآخِرَةِ، ومَن يسَّرَ على مُعْسِرٍ يسَّرَ اللهُ عليه في الدُّنيا والآخِرَةِ، واللهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَوْنِ أَخيه

“Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa memudahkan orang yang susah, Allah akan mudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699, At-Tirmidzi no. 2945, Ibnu Majah no. 225, Abu Dawud no. 1455, Ahmad no. 7427 dan ini adalah redaksi beliau).


,

يا معشَرَ مَن أسْلَمَ بلِسانِه، ولم يُفْضِ الإيمانُ إلى قلبِه، لا تُؤْذُوا المُسلِمينَ، ولا تُعَيِّروهم، ولا تتَّبِعوا عَوْراتِهم؛ فإنَّه مَن تتَبَّع عَوْرةَ أخيه المسلِمِ تتَبَّع اللهُ عورتَه، ومَن تتَّبَع اللهُ عَورتَه يَفْضَحْهُ ولو في جَوفِ رَحلِه

“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya padahal iman itu belum masuk ke dalam hatinya. (1)Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin! (2)Janganlah menjelekkan mereka! (3)Jangan mencari-cari kekurangan mereka! Sebab, barang siapa mencari-cari kekurangan saudaranya yang muslim, niscaya Allah akan mencari-cari kekurangannya. Barang siapa yang Allah cari-cari kekurangannya, niscaya Allah akan membongkar aibnya dan mempermalukannya, walaupun dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Tirmidzi no. 2032, Ibnu Hibban no. 5763, dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma).



© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/72984-membuka-aib-saudara.html
© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/72984-membuka-aib-saudara.html

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/72984-membuka-aib-saudara.html

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/72984-membuka-aib-saudara.html

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/72984-membuka-aib-saudara.html

Barakallahu fikum, semoga bermanfaat.


۞اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد۞


🍃💖🍃💖🍃💖🍃💖


🕋by rindhu....

_Akar berbagai dosa itu pada tiga perkara;_

 *Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh*



*Akar Suatu Kemaksiatan*


أصول الخطايا كلها ثلاث؛ الكبر وهو الذي أصار إبليس إلى ما أصاره،والحرص وهو الذي أخرج آدم من الجنة، والحسد وهو الذي جرأ أحد ابني آدم على أخيه، فمن وقى شر هذه الثلاث فقد  وقى الشر فالكفر  من الكبر والمعاصي من الحرص والظلم من الحسد




_1⃣Sombong, inilah yang menyeret Iblis melakukan apa yang ia telah lakukan,_


_2⃣Ambisi, inilah yang menyebabkan keluarnya Adam dari Surga,_


_3⃣Hasad (Dengki), inilah yang menyebabkan salah satu anak Adam berbuat aniaya kepada saudaranya,_


_☝🏻Maka barangsiapa yang terlepas dari kejelekan tiga perkara ini sungguh ia telah terlepas dari kejelekan,_


_👉🏻Maka kekufuran itu berasal dari kesombongan, dan maksiat itu berasal dari ambisi, sedangkan kedzaliman itu berasal dari hasad"_


📚Al Fawa_id (1/58).


✍🏽 Ustadz Fauzan Abu Muhammad Al-Kutawy hafizhahullah

Sosok Hamba-Hamba Teladan (Bag. 2)*

 *


*Ari Wahyudi, S.Si.*


https://muslim.or.id/259-sosok-hamba-hamba-teladan-2.html


*Ciri Kedelapan*


*Orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih.*


Yaitu orang-orang yang bertaubat dari kemaksiatan dan dosa-dosa yang lainnya dengan memenuhi syarat-syarat yang terkandung dalam ayat di atas: dia segera meninggalkan perbuatan itu, menyesali dosa yang pernah dilakukannya itu, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, yaitu keimanan yang menuntut dirinya untuk meninggalkan berbagai macam kemaksiatan dan menuntutnya untuk melaksanakan berbagai macam ketaatan, beramal shalih, melakukan amal yang diperintahkan syariat dan mengikhlaskan niatnya dalam beramal hanya untuk mengharap keridhaan dan pahala melihat Wajah-Nya.


Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Para ulama mengatakan: Taubat itu wajib dilakukan untuk setiap dosa yang diperbuat.” (Syarah Riyadhu Shalihin, I/56). Beliau juga berkata: “(Taubat) itu memiliki tiga rukun, meninggalkannya, menyesal atas perbuatan maksiatnya itu, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya selama-lamanya. Apabila maksiat itu berkaitan dengan hak manusia, maka ada rukun keempat yaitu membebaskan diri dari tanggungannya kepada orang yang dilanggar haknya. Pokok dari taubat adalah penyesalan, dan (penyesalan) itulah rukunnya yang terbesar.” (Syarah Muslim, IX/12).


Beliau rahimahullah juga mengatakan: “…Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa taubat dari segala maksiat (hukumnya) wajib, dan (mereka juga sepakat) taubat itu wajib dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda-tunda, sama saja apakah maksiat itu termasuk dosa kecil atau dosa besar. Taubat merupakan salah satu prinsip agung di dalam agama Islam dan kaidah yang sangat ditekankan di dalamnya…” (Syarah Shahih Muslim, IX/12).


Allah ta’ala berfirman, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)


*Ciri Kesembilan*


*Orang-orang yang tidak mendatangi az-Zuur, dan apabila mereka bertemu dengan orang yang mengerjakan al-Laghwu, mereka lewati dengan tetap menjaga kehormatan dirinya.*


Az-Zuur adalah perkataan dan perbuatan yang diharamkan. Istilah ini mencakup banyak hal seperti; syirik dan penyembahan berhala, dusta, kefasikan, kekafiran, kesia-siaan, kebatilan, nyanyian, hari raya orang musyrik, kumpulan peminum khamr, persaksian palsu dan lain-lain (lihat Tafsir Ibnu Kasir, VI/33).


Maka mereka menjauhi semua pertemuan yang di dalamnya terdapat perkataan atau perbuatan yang diharamkan, seperti perbincangan dalam memperolok ayat-ayat Allah, perdebatan yang batil, menggunjing, mengadu domba, mencela, menuduh zina tanpa bukti, mengejek syariat Allah, nyanyian yang haram, meminum khamr, menggunakan sutera, memajang gambar-gambar bernyawa, dan lain sebagainya.


Apabila mereka tidak menghadiri az-Zuur, maka apalagi mengatakan atau melakukannya mereka lebih tidak mau lagi. Dan persaksian palsu termasuk perbuatan yang pertama kali dikategorikan dalam cakupan az-Zuur.


“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah (al laghwu).”


Al-Laghwu adalah perkataan yang tidak mengandung kebaikan, baik manfaat diniyah maupun manfaat duniawiyah. Seperti perkataan orang-orang pandir dan semacamnya. “mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya”. Mereka membersihkan dan memuliakan diri mereka dengan tidak ikut campur dalam pembicaraan itu. Mereka meyakini bahwa berbicara tentang perkara yang tidak mengandung kebaikan semacam itu meskipun tidak mendatangkan dosa, tetapi itu termasuk sikap bodoh menurut pandangan nilai-nilai kemanusiaan dan kehormatan. Sehingga mereka lebih memilih untuk menjaga diri dari hal itu.


Di dalam firman Allah, “Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah”, terdapat isyarat bahwa mereka itu sebenarnya tidak memiliki niat untuk menghadiri dan mendengarkan perkataan itu, akan tetapi peristiwa itu terjadi secara kebetulan lalu mereka pun menjaga kemuliaan diri mereka dengan tidak ikut bergabung di dalamnya.


*Ciri Kesepuluh*


*Orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.*


Mereka adalah orang-orang yang tidak berpaling dari peringatan itu, tidak menutup telinga dari mendengarkannya, tidak menutup mata dan hatinya dari memahami peringatan itu sebagaimana perbuatan semacam ini dilakukan oleh orang yang tidak mengimani peringatan itu dan tidak mau membenarkannya.


Apabila mereka mendengar peringatan itu mereka bersikap sebagaimana yang difirmankan Allah, “Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud [maksudnya mereka sujud kepada Allah serta khusyuk] seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.” (QS. As-Sajdah: 15)


Mereka menerima peringatan-peringatan itu dengan sepenuhnya dengan disertai perasaan sangat membutuhkannya, tunduk serta pasrah terhadapnya. Anda temukan mereka itu memiliki telinga yang sangat terbuka, hati-hati yang sangat sadar yang dengan begitu maka semakin bertambahlah iman mereka serta semakin sempurna pula keyakinan mereka. Dengan adanya peringatan itu tumbuhlah semangat mereka, mereka senang dan bergembira menyambutnya.


Inilah sifat orang yang beriman, sebagaimana diterangkan Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfaal: 2)


Adapun orang-orang kafir, mereka sama sekali tidak terpengaruh apabila mendengar firman Allah, bahkan mereka tetap ngotot berada dalam kekafiran dan kesesatannya. Hal ini sebagaimana diterangkan Allah dalam ayat-Nya, “Dan apabila diturunkan suatu surat, Maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” adapun orang-orang yang beriman, Maka surat Ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit [kekafiran, kemunafikan, keragu-raguan dan sebagainya], Maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 124-125)


Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya peringatan itu akan bermanfaat bagi kaum yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyaat: 55)


Di dalam ayat ini Allah menginformasikan kepada kita bahwa peringatan akan membuahkan manfaat bagi kaum mukminin. Hal itu disebabkan di dalam jiwa mereka terdapat keimanan, rasa takut kepada Allah (khasysyah), ingin kembali menaati Allah (inabah) dan juga ketundukan dalam menuruti keridhaan Allah. Itulah yang menuntut mereka untuk bisa memetik faedah dari peringatan tersebut dan bisa menempatkan nasihat yang sampai kepada mereka pada tempat yang semestinya (yaitu dilaksanakan sebaik-baiknya). Hal ini senada dengan ayat yang difirmankan Allah ta’ala yang artinya, “Maka berikanlah peringatan jika peringatan itu membuahkan manfaat. Orang yang takut niscaya akan mengambil pelajaran (darinya). Sedangkan orang yang binasa niscaya justru akan menjauhinya.”


Adapun keadaan orang-orang yang di dalam jiwanya tidak terdapat keimanan dan juga tidak memiliki bekal persiapan untuk menerima peringatan (baca: masa bodoh), maka peringatan yang ditujukan kepada tipe orang semacam ini tidak akan banyak mendatangkan faedah (bagi dirinya sendiri), sebagaimana tanah yang lembab serta asin tidak akan bisa menjadi subur barang sedikitpun walaupun diguyur hujan. Tipe-tipe orang seperti mereka ini, seandainya semua ayat datang kepada mereka, niscaya mereka tidak akan mau beriman sampai mereka benar-benar menyaksikan adzab yang amat menyakitkan, wal ‘iyaadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu) (disadur dari Taisir Karimir Rahman, hal. 812-813).


*Ciri Kesebelas*


*Orang-orang yang berdoa: “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”*


Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan tentang mereka, “Mereka adalah orang-orang yang memohon kepada Allah supaya mengeluarkan dari tulang sulbi dan anak keturunan mereka orang-orang yang taat dan menyembah-Nya saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, VI/34)


Apabila kita mencermati keadaan dan sifat mereka ini maka kita bisa mengetahui ketinggian cita-cita dan kedudukan mereka, sehingga mereka tidaklah merasa tenteram sampai anak-anak mereka mau taat dan patuh kepada Rabb mereka serta berilmu dan mengamalkan ilmunya.


Meskipun doa ini ditujukannya untuk kebaikan istri dan anak keturunannya tetapi sesungguhnya itu adalah doa untuk dirinya sendiri. Karena manfaat doa itu akhirnya juga akan kembali kepadanya. Oleh karenanya di dalam doa itu mereka menyebut hal itu sebagai anugerah bagi mereka. Bahkan manfaat doa mereka juga kembali kepada keseluruhan kaum muslimin. Karena kebaikan istri dan anak-anak akan menimbulkan kebaikan orang-orang yang berinteraksi dan menimba faedah dari mereka.


Mereka berdoa, “Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. Ibnu Abbas, Al-Hasan, As-Suddi, Qatadah dan Rabi’ bin Anas mengatakan tentang maknanya, yaitu “Menjadi pemimpin-pemimpin di antara kami yang patut menjadi teladan dalam kebaikan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, VI/35)


Artinya mereka memohon supaya bisa meraih derajat yang tinggi ini, yaitu derajatnya kaum shiddiqiin dan derajat kesempurnaan yang dimiliki oleh hamba-hamba yang saleh, itulah derajat kepemimpinan dalam agama.


Mereka memohon supaya dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan, sehingga perbuatan mereka layak ditiru dan perkataan mereka melahirkan ketenangan. Sehingga para pelaku kebaikan berjalan mengikuti mereka. Mereka mendapatkan hidayah dan juga menyebarkannya.


Doa untuk mendapatkan sesuatu berarti juga mencakup permintaan segala sesuatu yang menjadi syarat terpenuhinya. Sedangkan derajat kepemimpinan di dalam agama ini tidak akan bisa tercapai kecuali dengan bekal kesabaran dan keyakinan. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’ala, “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (QS. As-Sajdah: 24)


*Mari Menghadap Allah Dengan Qalbu yang Saliim*


Saudara-saudaraku sekalian, marilah kita bersihkan hati-hati kita dari dosa-dosa dan kesyirikan. Karena di hari kiamat nanti tidak akan bermanfaat lagi banyaknya harta dan keturunan.


Berapapun harta yang anda punya, emas sebesar gunung atau bahkan sepenuh bumi sekalipun, itu semua tidak ada artinya jika anda berjumpa dengan-Nya tanpa hati yang bersih.


Begitu pula tidak ada artinya banyaknya anak cucu, walaupun mereka itu memiliki kedudukan dan jabatan-jabatan tertinggi di atas muka bumi, bila anda tidak menghadap-Nya dengan hati yang suci.


Allah ta’ala berfirman, “(ingatlah) Pada hari di mana tidak bermanfaat lagi harta dan keturunan, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’araa’: 88-89)


Imam Ibnu Katsir berkata: “(hati yang selamat) artinya selamat dari dosa dan kesyirikan.” Sa’id bin Al Musayyib mengatakan: “Hati yang selamat adalah hatinya orang beriman, karena hati orang kafir dan munafik itu sakit…” Abu ‘Utsman an-Naisaburi mengatakan: “(hati yang selamat) adalah hati yang bersih dari bid’ah dan merasa tenteram dengan as-Sunnah.” (Tafsir Ibnu Katsir, III/48)


*Gunakan Kesempatan Sebaik-Baiknya*


Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: ‘Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiyah yaitu barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang bermanfaat baginya, padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya, maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan madharat terhadap dirinya.


Barang siapa meninggalkan ibadah kepada Ar-Rahman (Allah), niscaya dia akan disibukkan dengan beribadah kepada berhala-berhala.


Barang siapa meninggalkan cinta, harap dan takut kepada Allah maka niscaya dia akan disibukkan dalam kecintaan kepada selain Allah, berharap dan takut karenanya.


Barang siapa tidak menginfakkan hartanya dalam menaati Allah niscaya dia akan menginfakkannya dalam menaati syaitan.


Barang siapa meninggalkan merendahkan diri dan tunduk kepada Rabbnya niscaya dia akan dicoba dengan merendahkan diri dan tunduk kepada hamba.


Barang siapa meninggalkan kebenaran niscaya dia akan dicoba dengan kebatilan (Tafsir surat al-Baqarah ayat 101-103, Taisir al-Karim ar-Rahman hal. 60-61).


*Saudaraku, waspadalah !*


Banyak orang yang mengira dirinya berada di atas kebaikan dan dia termasuk orang yang selamat dan pemilik kebahagiaan pada hari kiamat disebabkan apa yang dilihatnya berupa nikmat-nikmat Allah yang dicurahkan kepadanya selama di dunia sehingga dia mengatakan, “Seandainya bukan karena Allah ‘azza wa jalla ridha kepadaku niscaya Dia tidak akan menganugerahkan nikmat-nikmat ini”.


Si miskin ini meyakini kalau nikmat-nikmat ini datang dengan sebab kecintaan Allah kepadanya, dan dia merasa akan mendapat pemberian di akhirat yang lebih baik dari itu semua, padahal dia senantiasa bergelimang dalam kemaksiatan terhadap Allah, terjerumus dalam perkara-perkara yang diharamkan Allah dan ini merupakan sikap terperdaya/ghurur yang banyak manusia terjatuh ke dalamnya, bahkan kebanyakan masyarakat tertipu karenanya.


Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Apabila kamu melihat Allah ‘azza wa jalla melimpahkan kepada seorang hamba segala sesuatu yang disukainya di dunia sementara dia bergelimang kemaksiatan maka sesungguhnya itu adalah istidraaj” kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala yang artinya, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka Kamipun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka telah bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’aam: 44) (Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan Al-Albani).


Sebagian ulama Salaf mengatakan, “Apabila kamu melihat Allah terus menurunkan nikmat-Nya kepadamu sementara kamu bergelimang kemaksiatan kepada-Nya maka waspadalah, karena sesungguhnya itu adalah istidraaj yang ditimpakan kepadamu”.


Allah ta’ala telah membantah orang yang menyimpan persangkaan seperti ini dengan firman-Nya yang artinya, “Adapun manusia jika Rabbnya mengujinya dengan memuliakannya dan memberikan nikmat kepadanya dia berkata Rabbku telah memuliakanku, adapun jika Rabbnya mengujinya dengan membatasi rizkinya dia berkata Rabbku telah menghinakan aku, sekali-kali tidak demikian.” (QS. Al Fajr : 15-17)


Artinya tidak semua orang yang Aku karuniai nikmat (duniawi) dan Aku lapangkan rezekinya pasti orang yang Aku muliakan, dan tidak setiap orang yang Aku uji dan Aku sempitkan rezekinya pasti orang yang Aku hinakan, akan tetapi sebenarnya Aku sedang menguji orang yang satu ini dengan nikmat-nikmat dan Aku memuliakan orang yang satunya dengan memberikan ujian kepadanya. (dinukil dari ‘Isyruuna ‘uqbatan fii thariiqil muslim)


_Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin._


Selesai disusun ulang,


Jum’at 9/1/1429, di Yogyakarta


*Abu Mushlih Ari Wahyudi*


Semoga Allah mengampuninya


*Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi*


*Artikel www.muslim.or.id*


*© 2022 muslim.or.id*


*Sumber:* https://muslim.or.id/259-sosok-hamba-hamba-teladan-2.html

Senin, 22 Agustus 2022

12 Penyakit Hati Menurut Al-Qur'an



Dalam diri manusia ada 12 macam tipe hati yang sakit  menurut Alquran, apa saja itu...?


1. Hati yang Berpenyakit. Yaitu hati yang tertimpa penyakit seperti keraguan, kemunafikan dan suka memuaskan syahwat dengan cara yang haram. "Sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya." 

(QS.al-Ahzab:32)


2. Hati yang buta. Yaitu hati yang tidak dapat melihat dan menemukan kebenaran. "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." 

(QS.al-Hajj:46)


3. Hati yang alpa. Yaitu hati yang lalai dari Alquran. Karena terlalu disibukkan dengan hal-hal duniawi dan syahwat yang menyesatkan. "Hati mereka dalam keadaan lalai."

 (QS.al-Anbiya:3)


4. Hati yang berdosa. Yaitu hati yang menutupi kesaksian atas sebuah kebenaran. "Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan kesaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya." 

(QS.al-Baqarah:283)


5. Hati yang sombong. Yaitu hati yang congkak dan enggan mengakui Ke-Esaan Allah. Ia semena-mena melakukan kedzaliman dan permusuhan. "Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang." 

(QS.Ghafir:35)


6. Hati yang kasar. Yaitu hati yang tidak memiliki kasih sayang dan belas kasihan. "Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu."

(QS.Ali Imran:159)


7. Hati yang terkunci. Yaitu hati yang tidak mau mendengarkan hidayah dan enggan merenungkannya. "Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya." 

(QS.al-Jatsiyah:23)


8. Hati yang keras. Yaitu hati yang tidak dapat diluluhkan oleh keimanan. Tak dapat terpengaruh oleh nasihat dan peringatan. Dan ia berpaling dari mengingat Allah. "Dan Kami jadikan hati mereka keras membatu."

 (QS.al-Maidah:13)


9. Hati yang lalai. Yaitu hati yang menolak untuk mengingat Allah dan mendahulukan hawa nafsu dibanding ketaatan kepada-Nya. "Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami." 

(QS.al-Kahfi:38)


10. Hati yang tertutup. Yaitu hati yang tertutup rapat sehingga tidak dapat ditembus oleh ayat-ayat Allah dan sabda-sabda Nabi. Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". (QS.al-Baqarah:88)


11. Hati yang jauh (dari kebenaran). Yaitu hati yang melenceng jauh dari cahaya kebenaran. "Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan."

 (QS.Ali Imran:7)


12. Hati yang ragu. Yaitu hati yang selalu diombang-ambingkan oleh keraguan. "Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya." 

(QS.at-Taubah:45)


Inilah 12 tipe hati yang sakit menurut Alquran. Semoga hati kita terhindar dari 12 tipe ini. Karena itu perbanyaklah berdoa, "Duhai yang membolak-balikkan hati. Tetapkan hati kami di atas agama-Mu.

" [Khazanahalquran]


Wallahuallam Bishawab


Repost : Admin AL Muzakki Sharing Islami


Silahkan dibagikan agar mendapatkan pahala amal jariyah


Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda : "Barang Siapa yang menyampaikan 1(satu) Ilmu saja dan ada orang yang Mengamalkannya maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (Meninggal Dunia), dia akan tetap Memperoleh Pahala (Jariah)."

(HR. Al-Bukhari)

26. 𝗖𝗶𝗿𝗶 𝗮𝗸𝗵𝗹𝗮𝗸 𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝘀𝘁𝗶 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗰𝗮𝗽𝗮𝗶.

 


Dalam kitab “Ihya ‘Ulumuddin” jilid 3 halaman 75 


Imam Al-Ghazali ra  menerangkan bahwa ada 26 ciri-ciri orang yang berakhlak mulia.


Yaitu:

1. ﻛﺜﻴﺮ ﺍﻟﺤﻴﺎﺀ

Artinya: 

Merasa malu melakukan perbuatan buruk.

2. ﻗﻠﻴﻞ ﺍﻷﺫﻯ

Artinya: 

Tidak menyakiti atau menyinggung perasaan

orang lain.

3. ﻛﺜﻴﺮﺍﻟﺼﻼﺡ

Artinya: 

Selalu bersikap baik kepada orang lain.

4. ﺻﺪﻭﻕ ﺍﻟﻠﺴﻠﻦ

Artinya: 

Berkata jujur.

5. ﻗﻠﻴﻞ ﺍﻟﻜﻼﻡ

Artinya: 

Tidak banyak bicara.

6. ﻛﺜﻴﺮ ﺍﻟﻌﻤﻞ

Artinya: 

Banyak berkarya.

7. ﻗﻠﻴﻞ ﺍﻟﺰﻟﻞ

Artinya: 

Sedikit melakukan kesalahan.

8. ﻗﻠﻴﻞ ﺍﻟﻔﻀﻮﻝ

Artinya: 

Tidak banyak melakukan berlebih-lebihan, baik dalam perkatan maupun perbuatan.

9. ﺑﺎﺭﺍ

Artinya: 

Berbuat kebajikan nyata kepada sesama makhluk, khususnya manusia. Sedekah, karya yang

bermanfaat dll.

10. ﻭﺻﻮﻻ

Artinya: 

Menyambung tali silaturrahmi.

11. ﻭﻗﻮﺭﺍ

Artinya: 

Respek atau menghormati orang lain, baik yang masih muda maupun yang sudah tua usianya.

12. ﺷﻜﻮﺭﺍ

Artinya: 

Selalu bersyukur kepada Allah SWT.

13. ﺻﺒﻮﺭﺍ

Artinya: 

Bersabar menghadapi segala cobaan hidup.

14. ﺭﺿﻴﺎ

Artinya: 

Ridho terhadap apa yang diberikan Allah SWT.

15. ﺣﻠﻴﻤﺎ

Artinya: 

Berusaha tidak lekas marah terhadap orang lain

(murah hati).

16. ﺭﻓﻴﻘﺎ

Artinya: 

Welas asih kepada sesama makhluk, khususnya manusia.

17. ﻋﻔﻴﻔﺎ

Artinya: 

Memelihara diri dari perbuatan maksiat.

18. ﺷﻔﻴﻘﺎ

Artinya: 

Kasih sayang terhadap sesama makhluk.

19. ﻻ ﻟﻌﺎﻧﺎ

Artinya: 

Tidak sembarangan melaknat sesuatu atau orang

lain kalau belum jelas permasalahan dan hukumnya.

20. ﻻ ﺳﺒﺎﺑﺎ

Artinya: 

Tidak suka mencela orang lain.

21. ﻻ ﻧﻤﺎﻣﺎ

Artinya: 

Tidak suka mengadu domba kepada orang lain.

22. ﻻ ﻣﻐﺘﺎﺑﺎ

Artinya: 

Tidak melakukan ghibah (mengumpat-ngumpat)

orang lain.

23. ﻻ ﻋﺠﻮﻻ

Artinya: 

Tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu apapun.

24. ﻻ ﺑﺨﻴﻼ

Artinya: 

Tidak kikir terhadap harta yang dimiliki demi untuk menolong kesusahan orang lain.

25. ﻻ ﺣﻘﻮﺩﺍ

Artinya: 

Tidak berbuat dengki kepada orang lain.

26. ﻻ ﺣﺴﻮﺩﺍ

Artinya: 

Tidak berbuat hasud kepada orang lain.

Senin, 08 Agustus 2022

Sebab-Sebab Terjadinya Penyimpangan Agama

 **


Ustadz Yulian Purnama, S.Kom

https://t.me/fawaid_kangaswad

http://instagram.com/kangaswad



- Asy Syaikh Dr. Nashir bin Abdil Karim Al ‘Aql -


Hal-hal yang menjadi sebab menyimpangnya kelompok-kelompok sesat dari jalan sunnah itu banyak, diantaranya:


1. Allah ‘Azza Wa Jalla memang telah menguji hamba-Nya dengan keburukan ataupun dengan kebaikan. Sebagaimana firman-Nya:


وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً


“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” (QS. Al Anbiya: 35)


2. Apa yang terjadi itu memang sudah sunnatullah pada hamba-Nya.

وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ


“mereka senantiasa berselisih pendapat.Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu” (QS. Huud: 118-119)


3. Mengikuti hawa nafsu, prasangka dan mengikuti jalan setan.


4. Fanatik golongan dan fitnah


5. Adanya da’i-da’i yang mengajak pada kesesatan. Juga tasyabbuh kepada orang kafir serta kagum pada cara beragama mereka dan kagum jika berkumpul bersama mereka


6. Taqlid buta. Sebagaimana perkataan mereka:


بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا


“kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami” (QS. Al Baqarah: 170)


7. Menerima agama-agama dan firqah-firqah sesat serta kaum yang bobrok. Sebagaimana telah dikabarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits shahih:


لتتبعن سنن من كان قبلكم شبراً بشبر، وذراعاً بذراع..” رواه البخاري(3456)، ومسلم(2669).


“Sungguh kalian akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani) sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta” (HR. Bukhari 3456, Muslim 2669)


8. Tidak mau serius belajar agama (bodoh dalam urusan agama). Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:


“من يرد الله به خيراً يفقهه في الدين” رواه البخاري(71)، ومسلم(1037).


“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, akan dipahamkan ilmu agama” (HR. Bukhari 71, Muslim 1037)


9. Sering berdebat dan berbantah-bantahan dalam masalah agama.


10. Mengatakan hal-hal tentang Allah atau tentang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tanpa didasari ilmu.


11. Tidak menuntut ilmu secara talaqqi kepada para ulama ahlussunnah yang mapan ilmunya dan istiqamah.


12. Sembarangan dalam mengambil sumber ilmu agama, diantaranya dengan mengambil sumber ilmu agama bukan dari Al Qur’an dan As Sunnah. Juga dengan mengambil ilmu dari opini-opini, atau apa yang enak menurut selera, atau dari hikayat-hikayat, mimpi-mimpi, ramalan-ramalan, atau semacamnya.


13. Mengklaim bahwa ada orang yang ma’shum (tidak mungkin salah) selain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.


14. Menerima pemikiran-pemikiran dan pandangan-pandangan soal agama dari orang-orang kafir dan orang-orang yang punya pemikiran nyeleneh.


15. Menentang ajaran agama atau ekstrim dalam beragama.


16. Berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam (hadits palsu).


Dan sebab-sebab yang lainnya, sebagaimana telah ditunjukkan oleh dalil syar’i maupun oleh realita sejarah.


Sumber: website islamway


@fawaid_kangaswad

Senin, 18 Juli 2022

EMPAT JANJI ALLAH SUBHANALLAHU WATAALLA  YANG ISTIMEWA DALAM AL-QUR'AN

 *Assallamualaikum Warrahmatullaahi Wabarrokatuh*


**



*Janji merupakan perkara ringan untuk diucapkan namun berat untuk ditunaikan. Padahal ada banyak keutamaan yang diberikan Allah SWT bagi setiap hamba-Nya yang memenuhi janji. Diantaranya mendapatkan surga firdaus, terbebas dari sifat munafik dan selamat dari kecaman banyak orang*


Namun bagaimauna bila Allah SWT yg berjanji ? Tentunya tidak ada keraguan lagi bahwa hal tersebut pasti dipenuhi. Dan inilah empat janji Allah SWT dalam Al-Qur'an.


*✍️Empat Janji Allah SWT dalam Al-Qur'an :*


*1. Janji Allah yg Pertama tertera di Al-Qur'an Surat Ibrahim ayat 7 :*

*Allah SWT berfiman :* "Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan (ni'mat-Ku) untuk kalian."


Dari ayat diatas diketahui bahwa Allah SWT berjanji akan menambahkan nikmat-Nya bagi setiap hamba-Nya yang bersyukur. 


*2. Janji yg Kedua tertera di Surat dlm Al-Baqarah ayat 152 :*

*Allah SWT berfirman :* "Ingatlah kepada-KU niscaya AKu ingat kepada kalian."


Pada ayat ini Allah SWT memerintahkan untuk selalu mengingatNya, dengan demikian Allah pun akan selalu ingat dengan hamba-Nya tersebut. 


*3. Sedangkan janji Allah yg Ketiga Surat Ghafir ayat 60 :*

*Allah SWT berfirman :* "Berdo'alah kepada-Ku pasti Aku kabulkan untuk kalian."


Dari ayat ini dijelaskan bahwa apabila seorang hamba berdoa kepada Allah SWT akan mengabulkan. Dimana doa ada yg langsung dikabulkan oleh Allah SWT, Ada pula yg harus menunggu, bahkan ada yg dikabulkan pada saat diahkirat nanti.


*4.Kemudian janji Allah yg terakhir dalam surat Al-Anfal ayat 33 :*

*Allah SWT berfirman bahwa :*

"Tidaklah Allah mengadzab mereka, selama mereka memohon ampun (beristighfar kepada Allah)."


Dalam surat ini Allah SWT berjanji bahwa Ia tidak akan mengazab setiap hambaNya yg selalu memohon ampun kepadaNya. 


*Oleh sebab itu, sebagai seorang hamba yg beriman sudah seharusnya kita memberikan yg terbaik kepada Allah SWT. Dengan begitu, kita akan mendapatkan keistimewaan seperti yg telah Allah Ta'ala janjikan. *Aamiin Allahumma Aamiin.*_