Jumat, 27 Maret 2026

HAWA NAFSU


๐Ÿ’“๐—๐—”๐—ก๐—š๐—”๐—ก ๐— ๐—˜๐—ก๐—š๐—œ๐—ž๐—จ๐—ง๐—œ ๐—›๐—”๐—ช๐—” ๐—ก๐—”๐—™๐—ฆ๐—จ 


Secara bahasa, hawa nafsu adalah kecintaan terhadap sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ . 


Kecintaan tersebut sering menyeret seseorang untuk melanggar hukum Allรขh Azza wa Jalla .


Oleh karena itu hawa nafsu harus ditundukkan agar bisa tunduk terhadap syari’at Allรขh Azza wa Jalla . 


Adapun secara istilah syari’at, hawa nafsu adalah kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang disukainya sehingga keluar dari batas syari’at.


Syaikhul Islam ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต berkata, “Hawa nafsu asalnya adalah kecintaan jiwa dan kebenciannya. Semata-mata hawa nafsu, yaitu kecintaan dan kebencian yang ada di dalam jiwa tidaklah tercela. Karena terkadang hal itu tidak bisa dikuasai.


Namun yang tercela adalah mengikuti hawa nafsu, 


sebagaimana firman Allรขh Azza wa Jalla :


ูŠَุง ุฏَุงูˆُูˆุฏُ ุฅِู†َّุง ุฌَุนَู„ْู†َุงูƒَ ุฎَู„ِูŠูَุฉً ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูَุงุญْูƒُู…ْ ุจَูŠْู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ุจِุงู„ْุญَู‚ِّ ูˆَู„َุง ุชَุชَّุจِุนِ ุงู„ْู‡َูˆَู‰ٰ ูَูŠُุถِู„َّูƒَ ุนَู†ْ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ 


Hai Daud! sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allรขh. 

[Shรขd/38: 26][1]


Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Seseorang yang mengikuti hawa nafsu adalah seseorang yang mengikuti perkataan atau perbuatan yang dia sukai dan menolak perkataan atau perbuatan yang dia benci dengan tanpa dasar petunjuk dari Allรขh Azza wa Jalla ”[2]


๐Ÿญ. ๐—›๐—ฎ๐˜„๐—ฎ ๐—ก๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐˜‚ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ธ ๐—ž๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป


Allรขh Azza wa Jalla berfirman:


ูˆَู…َุง ู„َูƒُู…ْ ุฃَู„َّุง ุชَุฃْูƒُู„ُูˆุง ู…ِู…َّุง ุฐُูƒِุฑَ ุงุณْู…ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَู‚َุฏْ ูَุตَّู„َ ู„َูƒُู…ْ ู…َุง ุญَุฑَّู…َ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุฅِู„َّุง ู…َุง ุงุถْุทُุฑِุฑْุชُู…ْ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ۗ ูˆَุฅِู†َّ ูƒَุซِูŠุฑًุง ู„َูŠُุถِู„ُّูˆู†َ ุจِุฃَู‡ْูˆَุงุฆِู‡ِู…ْ ุจِุบَูŠْุฑِ ุนِู„ْู…ٍ ۗ ุฅِู†َّ ุฑَุจَّูƒَ ู‡ُูˆَ ุฃَุนْู„َู…ُ ุจِุงู„ْู…ُุนْุชَุฏِูŠู†َ


Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allรขh ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allรขh telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. [Al-An’รขm/6: 119]


Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah pembolehan dari Allรขh Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya, orang-orang Mukmin untuk memakan sembelihan-sembelihan yang dilakukan dengan menyebut nama Allรขh Azza wa Jalla . 


Yang terfahami (dari ayat ini) yaitu tidak boleh memakan semua sembelihan yang dilakukan dengan tanpa menyebut nama Allรขh Azza wa Jalla , sebagaimana orang-orang kafir yang musyrik membolehkan mengkonsumsi bangkai dan semua sembelihan (yang dipersembahkan-red) untuk berhala (punden), atau lainnya.


Kemudian Allรขh Azza wa Jalla mendorong para hamba-Nya untuk mengkonsumsi sembelihan-sembelihan yang dilakukan dengan menyebut nama Allรขh Azza wa Jalla . 


Allรขh Azza wa Jalla  berfirman.


ูˆَู…َุง ู„َูƒُู…ْ ุฃَู„َّุง ุชَุฃْูƒُู„ُูˆุง۟ ู…ِู…َّุง ุฐُูƒِุฑَ ูฑุณْู…ُ ูฑู„ู„َّู‡ِ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَู‚َุฏْ ูَุตَّู„َ ู„َูƒُู… ู…َّุง ุญَุฑَّู…َ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุฅِู„َّุง ู…َุง ูฑุถْุทُุฑِุฑْุชُู…ْ ุฅِู„َูŠْู‡ِ


‘Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebutkan nama Allรขh ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allรขh Azza wa Jalla telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya’. Yaitu kecuali dalam keadaan darurat, maka ketika itu dibolehkan bagi kamu (untuk mengkonsumsi)  apa yang kamu dapatkan.


Kemudian Allรขh Azza wa Jalla menjelaskan kebodohan orang-orang musyrik dalam pendapat mereka yang rusak tersebut, yaitu berupa penyataan yang membolehkan memakan bangkai dan sembelihan-sembelihan yang dilakukan dengan menyebut nama selain nama Allรขh Azza wa Jalla.


 Allรขh Azza wa Jalla berfirman,


ูˆَุฅِู†َّ ูƒَุซِูŠุฑًุง ู„َّูŠُุถِู„ُّูˆู†َ ุจِุฃَู‡ْูˆَุงุٓฆِู‡ِู… ุจِุบَูŠْุฑِ ุนِู„ْู…ٍ ۗ ุฅِู†َّ ุฑَุจَّูƒَ ู‡ُูˆَ ุฃَุนْู„َู…ُ ุจِูฑู„ْู…ُุนْุชَุฏِูŠู†َ


‘Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan.Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas’. Yaitu: Dia yang lebih mengetahui terhadap perbuatan mereka yang melampaui batas, kedustaan mereka, dan kebohongan mereka.”[3]


Termasuk mengikuti hawa nafsu adalah orang yang menolak syari’at setelah penjelasan datang kepadanya. 


Allรขh Azza wa Jalla berfirman:


ูَุฅِู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุณْุชَุฌِูŠุจُูˆุง ู„َูƒَ ูَุงุนْู„َู…ْ ุฃَู†َّู…َุง ูŠَุชَّุจِุนُูˆู†َ ุฃَู‡ْูˆَุงุกَู‡ُู…ْ ۚ ูˆَู…َู†ْ ุฃَุถَู„ُّ ู…ِู…َّู†ِ ุงุชَّุจَุนَ ู‡َูˆَุงู‡ُ ุจِุบَูŠْุฑِ ู‡ُุฏًู‰ ู…ِู†َ ุงู„ู„َّู‡ِ ۚ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู„َุง ูŠَู‡ْุฏِูŠ ุงู„ْู‚َูˆْู…َ ุงู„ุธَّุงู„ِู…ِูŠู†َ


Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allรขh sedikitpun. Sesungguhnya Allรขh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. 

[Al-Qashshash/28: 50]


Allรขh Azza wa Jalla juga berfirman:


ู‚ُู„ْ ูŠَุง ุฃَู‡ْู„َ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ ู„َุง ุชَุบْู„ُูˆุง ูِูŠ ุฏِูŠู†ِูƒُู…ْ ุบَูŠْุฑَ ุงู„ْุญَู‚ِّ ูˆَู„َุง ุชَุชَّุจِุนُูˆุง ุฃَู‡ْูˆَุงุกَ ู‚َูˆْู…ٍ ู‚َุฏْ ุถَู„ُّูˆุง ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ُ ูˆَุฃَุถَู„ُّูˆุง ูƒَุซِูŠุฑًุง ูˆَุถَู„ُّูˆุง ุนَู†ْ ุณَูˆَุงุกِ ุงู„ุณَّุจِูŠู„ِ


Katakanlah, “Hai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” [Al-Mรขidah/5: 77]


Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Barangsiapa mengikuti hawa nafsu manusia setelah mereka mengetahui agama Islam yang Allรขh amanahkan kepada Rasul-Nya untuk membawa agama itu dan juga setelah mengetahui petunjuk Allรขh yang telah dijelasakan kepada para hamba-Nya, berarti dia berada dalam kedudukan ini (yaitu sebagai pengikut hawa nafsu-pen). 


Oleh karena itu para Salaf menamakan ahli bid’ah dan orang-orang yang berpecah-belah, orang-orang yang menyelisihi al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah (al-Hadits) sebagai ahlul ahwa’ (orang-orang yang mengikuti hawa nafsu).


Karena mereka menerima apa yang mereka sukai dan menolak apa yang mereka benci dengan dasar hawa nafsu (kesenangan semata-pen), tanpa petunjuk dari Allรขh Azza wa Jalla ”[4].


๐Ÿฎ. ๐—•๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ธ๐˜‚๐˜๐—ถ  ๐—›๐—ฎ๐˜„๐—ฎ ๐—ก๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐˜‚


Orang yang mengikuti hawa nafsu tidak akan mementingkan agamanya dan tidak mendahulukan ridha Allรขh dan Rasul-Nya. 


Dia akan selalu menjadikan hawa nafsu menjadi tolok ukurnya.


Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Fondasi agama (Islam) adalah mencintai karena Allรขh dan membenci karena Allรขh, mendukung karena Allรขh dan menjauhi karena Allรขh, beribadah karena Allรขh, memohon pertolongan kepada Allรขh, takut kepada Allรขh, berharap kepada Allรขh, memberi karena Allรขh, dan menghalangi karena Allรขh.


 Ini hanya dapat dilakukan dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena perintah Rasรปlullรขh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perintah Allรขh Azza wa Jalla , larangannya adalah larangan Allรขh Subhanahu wa Ta’ala , memusuhinya berarti memusuhi Allรขh, mentaatinya sama dengan mentaati Allรขh dan mendurhakainya sama dengan mendurhakai Allรขh Azza wa Jalla .


Bahkan orang yang mengikuti hawa nafsunya telah dibuat buta dan tuli oleh hawa nafsunya. 


Sehingga dia tidak bisa memperhatikan dan melaksanakan apa yang menjadi hak Allรขh dan Rasul-Nya dalam hal itu, dan dia tidak mencarinya. 


Dia tidak ridha karena ridha Allรขh dan Rasul-Nya, dia tidak marah karena kemarahan Allรขh dan Rasul-Nya.


Tetapi dia ridha jika mendapatkan apa yang diridhai oleh hawa nafsunya, dan marah jika mendapatkan apa yang membuat hawa nafsunya marah”.[5]


Dengan demikian maka mengikuti hawa nafsu akan menyeret pelaku kepada kesesatan dan kerusakan. 


Sebab timbulnya bid’ah adalah hawa nafsu, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam, “Permulaan bid’ah adalah mencela Sunnah (ajaran Nabi) dengan dasar persangkaan dan hawa nafsu (sebagaimana bibit kemunculan golongan Khawarij-pen), 


sebagaimana Iblis mencela perintah Allรขh (saat diperintahkan sujud kepada Adam) dengan fikirannya dan hawa nafsunya”[6].


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudah mengingatkan bahwa mengikuti hawa nafsu akan membawa kehancuran. 


Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


ุซَู„َุงุซٌ ู…ُู‡ْู„ِูƒَุงุชٌ ูˆَ ุซَู„َุงุซٌ ู…ُู†ْุฌِูŠَุงุชٌ ูَุฃَู…َّุง ุซَู„َุงุซٌ ู…ُู‡ْู„ِูƒَุงุชٌ: ุดُุญٌّ ู…ُุทَุงุนٌ ูˆَ ู‡َูˆًู‰ ู…ُุชَّุจَุนٌ ูˆَุฅِุนْุฌَุงุจُ ุงู„ْู…َุฑْุกِ ุจِู†َูْุณِู‡ِ ูˆ ุซَู„َุงุซٌ ู…ُู†ْุฌِูŠَุงุชٌ : ุฎَุดْูŠَุฉُ ุงู„ู„َّู‡ِ ูِูŠ ุงู„ุณِّุฑِّ ูˆุงู„ุนู„ุงู†ูŠุฉِ ูˆَุงู„ْู‚َุตْุฏُ ูِูŠ ุงู„ْูَู‚ْุฑِ ูˆَุงู„ْุบِู†َู‰ ูˆَุงู„ْุนَุฏْู„ُ ูِูŠ ุงู„ْุบَุถَุจِ ูˆَุงู„ุฑِّุถَุง


Tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Adapun tiga perkara yang membinasakan adalah: kebakhilan dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan  seseorang yang membanggakan diri sendiri. Sedangkan tiga perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allรขh di waktu sendirian dan dilihat orang banyak, sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan, dan (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan ridha.

 [Hadits ini diriwayatkan dari Sahabat Anas, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Aufa, dan Ibnu Umar Radhiyallahu anhum.


Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan oleh syaikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahรขdรฎts ash-Shahihah, no. 1802 karena banyak jalur periwayatannya]


Demikian juga bahaya mengikuti hawa nafsu adalah mendatangkan kesusahan dan kesempitan ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ  .  


Syaikhul Islam berkata, “Barangsiapa mengikuti hawa nafsunya, seperti mencari kepemimpinan dan ketinggian (dunia-pen), keterikatan hati dengan bentuk-bentuk keindahan (kecantikan, ketampanan, dan lain-lain-pen), 


atau (usaha) mengumpulkan harta, di tengah usahanya untuk mendapatkan hal itu dia akan menemui rasa susah, sedih, sakit dan sempit hati,  yang tidak bisa diungkapkan. 


Dan kemungkinan hatinya tidak mudah untuk meninggalkan keinginannya, dan dia tidak mendapatkan apa yang menggembirakannya.


Bahkan dia selalu berada di dalam ketakutan dan kesedihan yang terus menerus. 


Jika dia mencari sesuatu yang dia sukai, maka sebelum dia mendapatkannya, dia selalu sedih dan perih karena belum mendapatkannya.


Jika dia sudah mendapatkannya, maka dia takut kehilangan atau ditinggalkan (sesuatu yang dia sukai itu)[7]


๐Ÿฏ. ๐— ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ฑ๐˜‚๐—ธ๐—ธ๐—ฎ๐—ป  ๐—›๐—ฎ๐˜„๐—ฎ  ๐—ก๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐˜‚ 


Maka untuk meraih keselamatan, orang yang mengikuti hawa nafsu harus menerapi dirinya dengan rasa ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐˜  ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ  ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ̂๐—ต  ๐—”๐˜‡๐˜‡๐—ฎ  ๐˜„๐—ฎ  ๐—๐—ฎ๐—น๐—น๐—ฎ 


sehingga akan menghentikannya dari mengikuti hawa nafsunya.


Demikian juga perlu ๐—ฑ๐—ถ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—น๐—บ๐˜‚  ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐˜‡๐—ถ๐—ธ๐—ถ๐—ฟ. 


Dengan keduanya maka hawa nafsu akan terpental.


Jika rasa takut kepada Allรขh Azza wa Jalla sudah tertanam di dalam hati, maka hati akan bisa memahami dan melihat kebenaran sebagaimana mata yang melihat benda-benda dengan sinar terang matahari.


Allรขh Azza wa Jalla berfirman:


ูˆَุฃَู…َّุง ู…َู†ْ ุฎَุงูَ ู…َู‚َุงู…َ ุฑَุจِّู‡ِ ูˆَู†َู‡َู‰ ุงู„ู†َّูْุณَ ุนَู†ِ ุงู„ْู‡َูˆَู‰ٰ ﴿ูคู ﴾ ูَุฅِู†َّ ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ ู‡ِูŠَ ุงู„ْู…َุฃْูˆَู‰ٰ


Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). [An-Nazi’at/79: 40-41]


Semoga Allรขh selalu membimbing hati kita sehingga sellau mampu menundukkan hawa nafsu dengan sebaik-baiknya.


Hanya Allรขh tempat memohon pertolongan.


๐—ข๐—น๐—ฒ๐—ต  : ๐—จ๐˜€๐˜๐—ฎ๐—ฑ๐˜‡ ๐—”๐—ฏ๐˜‚  ๐—œ๐˜€๐—บ๐—ฎ’๐—ถ๐—น ๐— ๐˜‚๐˜€๐—น๐—ถ๐—บ  ๐—ฎ๐—น-๐—”๐˜๐˜€๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ 


[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

_______

๐—™๐—ผ๐—ผ๐˜๐—ป๐—ผ๐˜๐—ฒ 


[1] Majmรป’ Fatรขwรข, 28/132


[2] Majmรป’ Fatรขwรข, 4/189


[3] Tafsรฎr Ibnu Katsir, 3/323


[4] Majmรป’ Fatรขwรข, 4/190


[5] Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, 5/255-256


[6] Majmรป’ al-Fatรขwรข, 3/350


[7] Majmรป’ al-Fatรขwรข, 10/651


 ๐—ข๐—น๐—ฒ๐—ต  : ๐—จ๐˜€๐˜๐—ฎ๐—ฑ๐˜‡ ๐—”๐—ฏ๐˜‚  ๐—œ๐˜€๐—บ๐—ฎ’๐—ถ๐—น ๐— ๐˜‚๐˜€๐—น๐—ถ๐—บ  ๐—ฎ๐—น-๐—”๐˜๐˜€๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ 

____________________________

Minggu, 15 Februari 2026

AGAR HATI TIDAK MEMBATU


Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hati seorang hamba akan menjadi sehat dan kuat apabila pemiliknya menempuh tiga tindakan: ▪︎ Menjaga kekuatan hati. Kekuatan hati akan terjaga dengan iman dan wirid-wirid
ketaatan. ▪︎ Melindunginya dari segala gangguan/bahaya. Perkara yang membahayakan itu
adalah dosa, kemaksiatan dan segala bentuk penyimpangan. ▪︎ Mengeluarkan zat-zat perusak yang mengendap di dalam dirinya. Yaitu dengan
senantiasa melakukan taubat nasuha dan istighfar untuk menghapuskan dosa-
dosa yang telah dilakukannya (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 25-26) Sungguh indah perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Setiap hamba pasti membutuhkan waktu-waktu tertentu untuk menyendiri dalam memanjatkan doa, berzikir, sholat, merenung, berintrospeksi diri dan memperbaiki hatinya.” (dinukil dari Kaifa Tatahammasu, hal. 13). Ibnu Taimiyah juga berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Maka apakah yang akan terjadi apabila seekor ikan telah dipisahkan dari dalam air?” (lihat al-Wabil ash-Shayyib). Ada seseorang yang mengadu kepada Hasan al-Bashri, “Aku mengadukan kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Maka beliau menasehatinya, “Lembutkanlah ia dengan berdzikir.” Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya hendaknya dia lebih mengutamakan Allah daripada menuruti berbagai keinginan hawa nafsunya. Hati yang terkungkung oleh syahwat akan terhalang dari Allah sesuai dengan kadar kebergantungannya kepada syahwat. Hancurnya hati disebabkan perasaan aman dari hukuman Allah dan terbuai oleh kelalaian. Sebaliknya, hati akan menjadi baik dan kuat karena rasa takut kepada Allah dan ketekunan berdzikir kepada-Nya.” (lihat al-Fawa’id, hal. 95) Sumber: https://muslim.or.id/5182-agar-hati-tidak-membatu.html

Rabu, 23 Juli 2025

IRINGI DOSA DENGAN AMAL SHALEH*

Bismillah…

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ุงุชู‚ ุงู„ู„ู‡ ุญูŠุซู…ุง ูƒู†ุช ، ูˆุฃุชุจุน ุงู„ุณูŠุฆุฉ ุงู„ุญุณู†ุฉ ุชู…ุญู‡ุง، ูˆุฎุงู„ู‚ ุงู„ู†ุงุณ ุจุฎู„ู‚ ุญุณู†

“Bertakwalah kepada Allah di manapun anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih).

Pelajaran dari hadis ini, bahwa seorang hamba apabila terjatuh dalam dosa, hendaklah bersegera menghapusnya dari catatan amal, supaya ia terhindarkan dari segala dampak buruk yang akan timbul dari dosa yang ia lakukan. Oleh karenanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ูˆุฃุชุจุน ุงู„ุณูŠุฆุฉ ุงู„ุญุณู†ุฉ ุชู…ุญู‡ุง…

“iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena dapat menghapusnya…”

Kalimat yang menunjukkan kesegeraan, artinya segera tutupi dosa-dosa dengan taubat dan amal shaleh. Jangan menunda-menunda. Karena dosa yang mengendap lama dalam diri, akan sangat berbahaya. Dosa yang tidak segera ditaubati dikhawatirkan akan melahirkan dosa lain. Semakin banyak dosa, hati akan semakin gelap, tertutup noda-noda dosa.

Allah berfirman,

ุฅِุฐَุง ุชُุชْู„َู‰ٰ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุขูŠَุงุชُู†َุง ู‚َุงู„َ ุฃَุณَุงุทِูŠุฑُ ุงู„ْุฃَูˆَّู„ِูŠู†َ * ูƒَู„َّุง ۖ ุจَู„ْ ۜ ุฑَุงู†َ ุนَู„َู‰ٰ ู‚ُู„ُูˆุจِู‡ِู…ْ ู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَูƒْุณِุจُูˆู†َ

“Wahai Muhammad, ingatlah ketika Al Quran dibacakan kepada orang kafir. Orang kafir itu berkata, “Al Quran hanyalah dongeng orang-orang dahulu.” Sekali-kali tidak! Bahkan hati orang-orang kafir itu telah tertutup oleh dosa yang mereka kerjakan (rรดn)” (QS. Al Muthoffifin: 14).

Hasan Al Bashri menerangkan makna “rรดn” pada ayat di atas,

ู‡ูˆ ุงู„ุฐู†ุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุฐู†ุจ ุญุชู‰ ูŠู…ูˆุช ุงู„ู‚ู„ุจ

“Itu adalah dosa yang ditumpuk dosa sehingga mematikan hati” (Lihat: Tafsir al Baghowi untuk tafsir ayat ini).

Bahaya Menumpuk Dosa Tanpa Bersegera Beramal Baik

Bila dosa terus diulang, ditambah dosa-dosa lain, tanpa ada upaya bertaubat dan mengimbanginya dengan amal shaleh, maka noda-noda hitam yang mempergelap hatinya akan semakin banyak. Bahkan hati dapat tertutup dari cahaya Allah. Hatinya menjadi gelap dan hitam. Ia menjadi tak peduli dengan kualitas iman dan kesehatan hatinya. Nasihat-nasihat akan sulit masuk ke relung hati. Sampai akhirnya meninggal dengan membawa dosa yang belum ia taubati. Tentu ini akan membawa petaka di akhirat nanti.

Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan.

ุฅู† ุงู„ุนุจุฏ ุฅุฐุง ุฃุฎุทุฃ ุฎุทูŠุฆุฉ ู†ูƒุชุช ููŠ ู‚ู„ุจู‡ ู†ูƒุชุฉ ุณูˆุฏุงุก ูุฅุฐุง ู‡ูˆ ู†ุฒุน ูˆุงุณุชุบูุฑ ูˆุชุงุจ ุณู‚ู„ ู‚ู„ุจู‡ ูˆุฅู† ุนุงุฏ ุฒูŠุฏ ููŠู‡ุง ุญุชู‰ ุชุนู„ูˆ ู‚ู„ุจู‡ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฑุงู† ุงู„ุฐูŠ ุฐูƒุฑ ุงู„ู„ู‡ { ูƒู„ุง ุจู„ ุฑุงู† ุนู„ู‰ ู‚ู„ูˆุจู‡ู… ู…ุง ูƒุงู†ูˆุง ูŠูƒุณุจูˆู† }

“Sesungguhnya seorang hamba apabila ia berbuat satu dosa, maka dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Apabila dia berusaha menghilangkannya dan beristighfar serta bertaubat maka terhapuslah titik tersebut. Jika kembali berbuat dosa maka akan bertambah sehingga memenuhi ruang hati. Itulah yang disebut dengan ”rรดn”(penutup hati) yang disebutkan Alloh… sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya dosa yang selalu mereka perbuat itu menutupi hati mereka” (HR. at Tirmidzi).

Ada sedikit saja noda yang menempel di pakaian, kita merasa risih. Akankah kita tidak risih dengan dosa yang menodai hati? Orang yang bijak merasa khawatir dan segera membuang jauh-jauh noda-noda hati itu.

Tiga Hal yang Dapat Menghapus Dosa

1. Bertaubat

2. Beristighfar tanpa taubat

3. Amal shaleh

(Lihat: Al Wasiyyah As Sughro, hal 31-32, tahqiq : Sobri bin Salamah Syฤhin).

Amal Shaleh yang Dapat Menghapus Dosa

Penjelasan terkait penghapus dosa pertama dan kedua, yakni taubat dan istighfar tanpa taubat, . Adapun amal shaleh, syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menerangkan bahwa amalan shaleh yang dapat menghapus dosa ada dua jenis:

Pertama, amal-amal shaleh yang dapat menghapus dosa-dosa tertentu saja.

Contohnya seperti kafarat untuk orang yang melakukan hubungan badan di siang hari ramadhan (membebaskan budak atau puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan enam puluh kaum miskin). Seperti juga pembayaran diyat untuk jama’ah haji yang melanggar larangan larangan ihram).

Kedua, amal-amal shaleh yang dapat menghapus dosa secara umum, tidak hanya dosa tertentu saja. Amal shaleh jenis ini ada dua macam:

Jenis Pertama, amal shaleh yang dijelaskan secara jelas (nash) oleh dalil bahwa ia dapat menghapus dosa. Bisa berbentuk perbuatan atau ucapan.

Contohnya yang dijelaskan pada hadis-hadis berikut:

* ู…ู† ุตุงู… ุฑู…ุถุงู† ุฅูŠู…ุงู†ุงً ูˆุงุญุชุณุงุจุงً ุบُูุฑ ู„ู‡ ู…ุง ุชู‚ุฏู… ู…ู† ุฐู†ุจู‡

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa – dosanya yang telah lalu“ (HR. Bukhari dan Muslim).

* ู…ู† ู‚ุงู… ุฑู…ุถุงู† ุฅูŠู…ุงู†ุง ูˆ ุงุญุชุณุงุจุง ุบูุฑ ู„ู‡ ู…ุง ุชู‚ุฏู… ู…ู† ุฐู†ุจู‡

“Barangsiapa yang berdiri shalat pada bulan Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala maka akan diampuni dosa – dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).


* ู…ู† ุฃูƒู„ ุทุนุงู…ุง ูู‚ุงู„ ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุงู„ุฐูŠ ุฃุทุนู…ู†ูŠ ู‡ุฐุง ูˆุฑุฒู‚ู†ูŠู‡ ู…ู† ุบูŠุฑ ุญูˆู„ ู…ู†ูŠ ูˆู„ุง ู‚ูˆุฉ ุบูุฑ ู„ู‡ ู…ุง ุชู‚ุฏู… ู…ู† ุฐู†ุจู‡


“Barang siapa yang setelah makan membaca “Alhamdulillahil ladzi ad’amani hadza wa razaqanihi min ghairi haulin minni wala quwwah” maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Tirmidzi. Al-Albani berkata: hadist hasan).

* ุฅุฐุง ุฃู…ู† ุงู„ุฅู…ุงู… ูุฃู…ู†ูˆุง ูุฅู†ู‡ ู…ู† ูˆุงูู‚ ุชุฃู…ูŠู†ู‡ ุชุฃู…ูŠู† ุงู„ู…ู„ุงุฆูƒุฉ ุบูุฑ ู„ู‡ ู…ุง ุชู‚ุฏู… ู…ู† ุฐู†ุจู‡

“Jika seorang imam mengucapkan ‘amin’ maka ucapkanlah pula ‘amin’ karena siapa yang uacapan aminnya bersesuaian dengan ucapan amin para malaikat akan terampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).

* ู…َู†ْ ุชَูˆَุถَّุฃَ ู‡َูƒَุฐَุง ، ุซُู…َّ ุฎَุฑَุฌَ ุฅِู„َู‰ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ، ู„َุง ูŠَู†ْู‡َุฒُู‡ُ ุฅِู„َّุง ุงู„ุตَّู„َุงุฉُ ، ุบُูِุฑَ ู„َู‡ُ ู…َุง ุฎَู„َุง ู…ِู†ْ ุฐَู†ْุจِู‡ِ

“Barangsiapa yang berwudhu seperti ini (sprti wudhu yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, pent), kemudian ia keluar menuju masjid dan tidak ada yang ia menjadikan ia keluar kecuali untuk sholat, niscaya Allah ampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Muslim).

Hadis ini sebenarnya sudah sangat cukup sebagai motivasi kita untuk sholat berjamaah di masjid. Terlepas dari perselisihan para ulama terkait hukum sholat berjamaah. Karena sebagian saudara kita berleha-leha dalam hal sholat berjamaah, karena berpandangan tidak wajib. Namun bila melihat keutamaan yang dijelaskan pada sabda Rasulullah di atas, sudah sangat cukup sebagai alasan untuk tidak menyiakan sholat berjamaah.


Jenis Kedua, amal shaleh yang tidak dijelaskan secara jelas (nash) oleh dalil, bahwa ia penghapus dosa.


Ini mencakup seluruh amal kebajikan yang tidak diterangkan secara khusus bahwa ia dapat menghapus dosa. Namun sejatinya seluruh amal shaleh, meskipun tidak dijelaskan secara khusus, ia dapat menjadi penghapus dosa. Dalilnya adalah keumuman firman Allah ‘azza wa jalla,

ุฅِู†َّ ุงู„ْุญَุณَู†َุงุชِ ูŠُุฐْู‡ِุจْู†َ ุงู„ุณَّูŠِّุฆَุงุชِ ۚ ุฐَٰู„ِูƒَ ุฐِูƒْุฑَู‰ٰ ู„ِู„ุฐَّุงูƒِุฑِูŠู†َ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)” (QS. Hud: 114).

Dan juga hadis,

ูˆุฃุชุจุน ุงู„ุณูŠุฆุฉ ุงู„ุญุณู†ุฉ ุชู…ุญู‡ุง…

“Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena dapat menghapusnya…”

Bila ada yang bertanya, “lalu apa manfaatnya penjelasan secara khusus terkait amalan-amalan ini dapat menghapus dosa, bila memang seluruh amal shaleh dapat menghapus dosa?”

Jawabannya : Pertama untuk mengingatkan bahwa kedudukan amal-amal tersebut sangat mulia. Kemudian untuk menjelaskan bahwa amal-amal shaleh tersebut dampaknya dalam menghapus dosa lebih kuat daripada amalan shaleh lainnya.

Wallahua’lam bis shawab.

(Tulisan ini adalah rangkuman faidah kajian Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili –hafizhahullah– di Masjid Nabawi, saat mengkaji buku Al-Wasiyyah As-Sughra, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah-rahimahullah-).

Ditulis di Jogja (PP Hamalatulqur’an), 19 Sya’ban 1438 H / 16 Mei 2017

Penulis: Ahmad Anshori

© 2022 muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/29981-iringi-dosa-dengan-amal-saleh.html


____________________

Jumat, 18 Juli 2025

6 Perusak hati

 PENYEBAB RUSAKNYA HATI

Imam al-Hasan al-Bashri rohimahullahu ta'ala berkata,

ูุณุงุฏ ุงู„ู‚ู„ูˆุจ ู…ุชูˆู„ุฏ ู…ู† ุณุชุฉ ุฃุดูŠุงุก، ุฃูˆู„ู‡ุง:

ูŠุฐู†ุจูˆู† ุจุฑุฌุงุก ุงู„ุชูˆุจุฉ، ูˆูŠุชุนู„ู…ูˆู† ุงู„ุนู„ู… ูˆู„ุง ูŠุนู…ู„ูˆู† ุจู‡، ูˆุฅุฐุง ุนู…ู„ูˆุง ู„ุง ูŠุฎู„ุตูˆู†، ูˆูŠุฃูƒู„ูˆู† ุฑุฒู‚ ุงู„ู„ู‡ ูˆู„ุง ูŠุดูƒุฑูˆู†، ูˆู„ุง ูŠุฑุถูˆู† ุจู‚ุณู…ุฉ ุงู„ู„ู‡، ูˆูŠุฏูู†ูˆู† ู…ูˆุชุงู‡ู… ูˆู„ุง ูŠุนุชุจุฑูˆู†.

Rusaknya hati lahir dari enam perkara : 

1. Melakukan dosa dengan harapan ada kesempatan taubat untuknya,

2. Mempelajari ilmu agama, tetapi tidak diamalkan

3. Dan kalaupun mereka mengamalkannya (ilmu agama tsb), tidak didasari dengan keikhlasan,

4. Mereka menikmati rezeki dari Allah, tetapi tidak bersyukur dengannya,

5. Mereka tidak ridho dengan pembagian rezeki yang Allah berikan,

6. Mereka menguburkan orang yang telah wafat, tetapi mereka tidak mengambil pelajaran darinya.

(Iqozhu Ulil Himam - 1/96)

ref : https://bbg-alilmu.com/archives/70114

10 akibat jauh dari Allah SWT

 ◾️ JIKA ALLAH TELAH BERPALING ◾️


Allah 'Azza wa Jalla berfirman :

"Wahai orang2 yg beriman, taatlah kpda Allah dan Rasul-Nya &, 'janganlah' kalian "berpaling" dari pada-Nya, sedang kalian mendengar (perintah2-Nya)" (QS. 8 : 20)


Jika ALLAH berpaling, maka hamba itu :


(01). Tidak Terjaga Dari Kesesatan


"Dan Barangsiapa "Menentang" Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, & mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan ia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu.." (QS.An-Nisaa' : 115)


(02). Tidak Terjaga Dari Fitnah Dunia


"Maka tatkala mereka telah "melupakan peringatan" yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua "pintu-pintu Kesenangan" untuk mereka. Hingga apabila mereka itu "Bergembira" dengan apa yg diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan se-konyong2, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa" (QS. Al-An’aam [6]: 44)


ู†ُู…َุชِّุนُู‡ُู…ۡ ู‚َู„ِูŠู„ุٗง ุซُู…َّ ู†َุถุۡทَุฑُّู‡ُู…ۡ ุฅِู„َู‰ٰ ุนَุฐَุงุจٍ ุบَู„ِูŠุธٍ


"Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam adzab yg keras" (QS. Luqman [31]: 24)


(03). Banyak Waktunya Habis Sia-Sia


Al-Hasan al-Basri ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ berkata :

"Termasuk tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya dalam perkara yang TIDAK bermanfaat baginya" (Jaami’ul Uluum wa al-Hikam hal 139)


(04). Semakin Dipalingkan Hatinya


"Maka tatkala mereka berpaling, maka Allah pun memalingkan hati mereka, & Allah tdk memberikan hidayah kepada kaum yang fasik" (QS.Ash-Shaf [61]: 5)


Allah Ta'ala akan menyibukkannya dgn urusan dunia, anak-anak, & perniagaan, harta, mengejar karir, pangkat, jabatan, popularitas dll, hingga dia lupa kepada kehidupan akhirat yang kekal & abadi..


(05).  Semakin Tdk Memahami Agama


Imam Ibnul Jauzi ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ berkata :

"Barangsiapa ingin 'mengetahui' sebesar apakah perhatian Allah utk dirinya, maka lihatlah "sebesar" apakah ilmu agama yg telah dia dapatkan" (At-Tadzkirah hal 55)


Imam Bin Baaz ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ berkata :

"Barangsiapa yang telah "berpaling" dari menuntut "ilmu agama", maka itu tanda bahwasanya Allah tdk menginginkannya kebaikan" (http://www.binbaz.org.sa/article/197)


(06). Tidak Terlihat Adanya Keshalihan Dan Banyaknya Ibadah Yang Dilakukan


Ketika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberikan kekuatan kepadanya untuk BISA menjadi hamba yang shalih, & Allah akan mudahkan dia untuk melakukan kebaikan & ketaatan.


(07). Dijadikan Senang Kepada Dosa


"Tidakkah engkau lihat, sesungguhnya Kami telah "mengutus" setan-setan itu kepada orang2 kafir untuk mendorong mereka (melakukan "maksiat") dengan sungguh-sungguh?" (QS. Maryam : 83)


Tetapi jika Allah "tidak berpaling", maka Allah akan menjadikan hamba itu benci kepada dosa dan kemaksiatan.


"Tetapi Allah menjadikan kamu CINTA kepada keimanan, dan Dia menjadikan (iman) itu "indah" di dalam hatimu, dan Dia menjadikan kamu itu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang2 yang "mengikuti" jalan yang lurus" (QS.Al-Hujurat [49]: 7)


(08). Syaitan Mudah Menggodanya


"Dan barangsiapa yang "berpaling" dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur'an), maka Kami biarkan syaitan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya" (QS. Az-Zukhruf [43]: 36)


(09). Dijadikan Musibah, Dan Kehidupan Pun Terasa Berat Dan Sempit Baginya


"Jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak untuk menimpakan musibah kpd mereka yg disebabkan oleh sebagian dosa-dosa mereka..." (QS. Al-Maa-idah [5]: 49)


"Dan barangsiapa yang "berpaling" dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang "SEMPIT".... (QS. Tha-Ha [20]: 124)


(10). Matinya Suu-ul Khaatimah


Karena rusaknya aqidah dan ibadah, & banyaknya dosa yang dilakukan tanpa bertaubat kepada Allah, maka bisa jadi Allah pun "tdk memberikan" kepadanya taufik utk bisa beramal shalih "sebelum mati", sehingga ia mati dalam keadaan sedang bermaksiat kepada Allah.


✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

https://telegram.me/najmiumar

Instagram : @najmiumar_official

Youtube : najmi umar official

Senin, 14 Juli 2025

Karakter kafir sejati

 Karakter kafir sejati#penjelasan komplit#

Istilah "kafir sejati" sering digunakan dalam wacana keagamaan, terutama dalam Islam, untuk menggambarkan orang yang secara sengaja dan terus-menerus menolak kebenaran agama (Islam) meskipun telah memahami dengan jelas. Namun, penting untuk memahami konsep ini secara komprehensif agar tidak disalahartikan atau digunakan untuk stigmatisasi.

1. Definisi "Kafir" dalam Islam

  • Secara bahasa: Kata "kafir" (ูƒูุฑ) berasal dari bahasa Arab yang berarti "menutupi" atau "mengingkari".

  • Secara istilah syar'i: Kafir merujuk pada orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, baik karena tidak mengetahui (jahil), ragu-ragu, atau menolak dengan kesombongan.

2. Karakter "Kafir Sejati" Menurut Islam

Orang yang disebut "kafir sejati" (bukan sekadar non-Muslim biasa) memiliki ciri-ciri khusus, antara lain:

a. Menolak Kebenaran dengan Kesadaran Penuh

  • Mereka telah memahami ajaran Islam dengan jelas, tetapi tetap menolaknya karena kesombongan atau kepentingan duniawi.

  • Contoh: Fir'aun yang tahu kebenaran Musa tetapi tetap ingkar (QS. Yunus: 75-78).

b. Memusuhi Islam dan Umat Muslim

  • Mereka aktif menyerang, menghina, atau merusak agama Islam.

  • Contoh: Abu Jahal dan Abu Lahab yang terus menyakiti Nabi Muhammad ๏ทบ meski tahu kebenaran.

c. Mengolok-olok Agama dan Ayat-Ayat Allah

  • Allah berfirman:
    "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (orang kafir), niscaya mereka akan menjawab: 'Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.' Katakanlah: 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman." (QS. At-Taubah: 65-66)

d. Tidak Mau Mendengar atau Menerima Nasihat

  • Mereka menutup hati dari hidayah meski bukti kebenaran telah jelas.

  • Contoh: Kaum Nabi Nuh yang terus mendustakan meski telah diperingatkan (QS. Nuh: 5-7).

e. Mengaku Beriman tetapi Menolak Hukum Allah

  • Allah berfirman:
    "Dan barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir." (QS. Al-Maidah: 44)
    (Ini berlaku bagi yang menolak syariat dengan kesombongan, bukan karena ketidaktahuan.)

3. Perbedaan Antara Kafir Sejati dan Non-Muslim Biasa

  • Non-Muslim biasa (seperti banyak Nasrani, Yahudi, atau atheis) mungkin belum mendapat penjelasan Islam yang benar atau belum tersentuh hidayah. Mereka bukan termasuk "kafir sejati" selama tidak memusuhi.

  • Kafir sejati adalah mereka yang sadar kebenaran tetapi tetap memerangi Islam dengan sengaja.

4. Sikap Muslim Terhadap Kafir Sejati

  • Tidak memaksakan agama, karena hidayah di tangan Allah (QS. Al-Baqarah: 256).

  • Berlaku adil dalam interaksi sosial (QS. Al-Mumtahanah: 8).

  • Tidak mencintai atau loyal secara agama kepada mereka yang memerangi Islam (QS. Al-Mujadilah: 22).

  • Tetap berdakwah dengan bijak, karena bisa saja mereka suatu saat mendapat hidayah.

5. Catatan Penting

  • Istilah "kafir" dalam Islam bukan untuk penghinaan, tetapi klasifikasi teologis.

  • Tidak semua non-Muslim adalah "kafir sejati", banyak yang belum tahu kebenaran atau belum tersentuh dakwah.

  • Hindari generalisasi, karena banyak non-Muslim yang baik secara akhlak meski belum beriman.

Kesimpulan

"Kafir sejati" adalah mereka yang dengan kesombongan dan kesadaran penuh menolak kebenaran Islam, memusuhi, dan mengolok-olok agama Allah. Namun, sebagai Muslim, kita tetap harus berdakwah dengan bijak dan tidak gegabah dalam menilai orang lain. Wallahu a'lam.

Senin, 21 April 2025

5 golongan dikhawatirkan mengalami su'ul khotimah

 Berikut ini adalah lima golongan yang dikhawatirkan mengalami su’ul khatimah (akhir kehidupan yang buruk), disertai dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang relevan secara detail:


1. Orang yang Berbuat Syirik

Penjelasan:

Syirik adalah dosa paling besar, yaitu mempersekutukan Allah dengan sesuatu selain-Nya. Jika seseorang mati dalam keadaan syirik, maka dosanya tidak akan diampuni.

Dalil:

QS. An-Nisa: 48

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar."

Hadis:

HR. Bukhari dan Muslim

Rasulullah ๏ทบ bersabda:
"Barangsiapa mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka."


2. Orang yang Munafik

Penjelasan:

Munafik adalah orang yang secara lahir mengaku beriman, tetapi hatinya ingkar. Golongan ini mendapat azab yang paling berat di akhirat.

Dalil:

QS. An-Nisa: 145

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka."

Hadis:

HR. Muslim

Rasulullah ๏ทบ bersabda:
"Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari, dan apabila dipercaya dia berkhianat."


3. Orang yang Suka Maksiat dan Tidak Mau Bertaubat

Penjelasan:

Orang yang terus-menerus dalam kemaksiatan tanpa taubat, sangat dikhawatirkan meninggal dalam keadaan buruk.

Dalil:

QS. Al-Jatsiyah: 23

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya...?"

Hadis:

HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi

Rasulullah ๏ทบ bersabda:
"Seseorang akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan ketika ia meninggal dunia."


4. Orang yang Meremehkan Shalat

Penjelasan:

Shalat adalah tiang agama. Orang yang meninggalkan atau meremehkannya bisa celaka di dunia dan akhirat.

Dalil:

QS. Maryam: 59

"Maka datanglah setelah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan."

Hadis:

HR. Thabrani

Rasulullah ๏ทบ bersabda:
"Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir."


5. Orang yang Berbuat Zalim dan Suka Menyakiti Sesama

Penjelasan:

Kezaliman kepada sesama manusia sulit diampuni kecuali dengan permintaan maaf dan pengembalian hak.

Dalil:

QS. Al-Furqan: 23

"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan."

Hadis:

HR. Bukhari

Rasulullah ๏ทบ bersabda:
"Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?" Mereka menjawab, "Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta." Rasulullah bersabda, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, namun ia datang juga dengan membawa dosa karena mencaci maki orang, menuduh orang lain, memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. Maka diberikanlah kepada orang-orang itu kebaikan-kebaikannya hingga habis, lalu diambil dari dosa-dosa mereka dan ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka."