๐๐๐๐ก๐๐๐ก ๐ ๐๐ก๐๐๐๐จ๐ง๐ ๐๐๐ช๐ ๐ก๐๐๐ฆ๐จ
Secara bahasa, hawa nafsu adalah kecintaan terhadap sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai ๐ต๐ฎ๐๐ถ๐ป๐๐ฎ .
Kecintaan tersebut sering menyeret seseorang untuk melanggar hukum Allรขh Azza wa Jalla .
Oleh karena itu hawa nafsu harus ditundukkan agar bisa tunduk terhadap syari’at Allรขh Azza wa Jalla .
Adapun secara istilah syari’at, hawa nafsu adalah kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang disukainya sehingga keluar dari batas syari’at.
Syaikhul Islam ๐ฟ๐ฎ๐ต๐ถ๐บ๐ฎ๐ต๐๐น๐น๐ฎ๐ต berkata, “Hawa nafsu asalnya adalah kecintaan jiwa dan kebenciannya. Semata-mata hawa nafsu, yaitu kecintaan dan kebencian yang ada di dalam jiwa tidaklah tercela. Karena terkadang hal itu tidak bisa dikuasai.
Namun yang tercela adalah mengikuti hawa nafsu,
sebagaimana firman Allรขh Azza wa Jalla :
َูุง ุฏَุงُููุฏُ ุฅَِّูุง ุฌَุนََْููุงَู ุฎََِูููุฉً ِูู ุงْูุฃَุฑْุถِ َูุงุญُْูู ْ ุจََْูู ุงَّููุงุณِ ุจِุงْูุญَِّู ََููุง ุชَุชَّุจِุนِ ุงََْٰูููู َُููุถََِّูู ุนَْู ุณَุจِِูู ุงَِّููู
Hai Daud! sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allรขh.
[Shรขd/38: 26][1]
Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Seseorang yang mengikuti hawa nafsu adalah seseorang yang mengikuti perkataan atau perbuatan yang dia sukai dan menolak perkataan atau perbuatan yang dia benci dengan tanpa dasar petunjuk dari Allรขh Azza wa Jalla ”[2]
๐ญ. ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐ก๐ฎ๐ณ๐๐ ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ท๐ฎ๐ธ ๐๐ฒ๐๐ฒ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป
Allรขh Azza wa Jalla berfirman:
َูู َุง َُููู ْ ุฃََّูุง ุชَุฃُُْูููุง ู ِู َّุง ุฐُِูุฑَ ุงุณْู ُ ุงَِّููู ุนََِْููู ََููุฏْ َูุตََّู َُููู ْ ู َุง ุญَุฑَّู َ ุนََُْูููู ْ ุฅَِّูุง ู َุง ุงุถْุทُุฑِุฑْุชُู ْ ุฅَِِْููู ۗ َูุฅَِّู َูุซِูุฑًุง َُููุถَُِّููู ุจِุฃََْููุงุฆِِูู ْ ุจِุบَْูุฑِ ุนِْูู ٍ ۗ ุฅَِّู ุฑَุจََّู َُูู ุฃَุนَْูู ُ ุจِุงْูู ُุนْุชَุฏَِูู
Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allรขh ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allรขh telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. [Al-An’รขm/6: 119]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah pembolehan dari Allรขh Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya, orang-orang Mukmin untuk memakan sembelihan-sembelihan yang dilakukan dengan menyebut nama Allรขh Azza wa Jalla .
Yang terfahami (dari ayat ini) yaitu tidak boleh memakan semua sembelihan yang dilakukan dengan tanpa menyebut nama Allรขh Azza wa Jalla , sebagaimana orang-orang kafir yang musyrik membolehkan mengkonsumsi bangkai dan semua sembelihan (yang dipersembahkan-red) untuk berhala (punden), atau lainnya.
Kemudian Allรขh Azza wa Jalla mendorong para hamba-Nya untuk mengkonsumsi sembelihan-sembelihan yang dilakukan dengan menyebut nama Allรขh Azza wa Jalla .
Allรขh Azza wa Jalla berfirman.
َูู َุง َُููู ْ ุฃََّูุง ุชَุฃُُْูููุง۟ ู ِู َّุง ุฐُِูุฑَ ูฑุณْู ُ ูฑَِّููู ุนََِْููู ََููุฏْ َูุตََّู َُููู ู َّุง ุญَุฑَّู َ ุนََُْูููู ْ ุฅَِّูุง ู َุง ูฑุถْุทُุฑِุฑْุชُู ْ ุฅَِِْููู
‘Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebutkan nama Allรขh ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allรขh Azza wa Jalla telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya’. Yaitu kecuali dalam keadaan darurat, maka ketika itu dibolehkan bagi kamu (untuk mengkonsumsi) apa yang kamu dapatkan.
Kemudian Allรขh Azza wa Jalla menjelaskan kebodohan orang-orang musyrik dalam pendapat mereka yang rusak tersebut, yaitu berupa penyataan yang membolehkan memakan bangkai dan sembelihan-sembelihan yang dilakukan dengan menyebut nama selain nama Allรขh Azza wa Jalla.
Allรขh Azza wa Jalla berfirman,
َูุฅَِّู َูุซِูุฑًุง َُّููุถَُِّููู ุจِุฃََْููุงุٓฆِِูู ุจِุบَْูุฑِ ุนِْูู ٍ ۗ ุฅَِّู ุฑَุจََّู َُูู ุฃَุนَْูู ُ ุจِูฑْูู ُุนْุชَุฏَِูู
‘Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan.Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas’. Yaitu: Dia yang lebih mengetahui terhadap perbuatan mereka yang melampaui batas, kedustaan mereka, dan kebohongan mereka.”[3]
Termasuk mengikuti hawa nafsu adalah orang yang menolak syari’at setelah penjelasan datang kepadanya.
Allรขh Azza wa Jalla berfirman:
َูุฅِْู َูู ْ َูุณْุชَุฌِูุจُูุง ََูู َูุงุนَْูู ْ ุฃََّูู َุง َูุชَّุจِุนَُูู ุฃََْููุงุกَُูู ْ ۚ َูู َْู ุฃَุถَُّู ู ِู َِّู ุงุชَّุจَุนَ ََููุงُู ุจِุบَْูุฑِ ُูุฏًู ู َِู ุงَِّููู ۚ ุฅَِّู ุงََّููู َูุง َْููุฏِู ุงَْْูููู َ ุงูุธَّุงِูู َِูู
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allรขh sedikitpun. Sesungguhnya Allรขh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.
[Al-Qashshash/28: 50]
Allรขh Azza wa Jalla juga berfirman:
ُْูู َูุง ุฃََْูู ุงِْููุชَุงุจِ َูุง ุชَุบُْููุง ِูู ุฏُِِูููู ْ ุบَْูุฑَ ุงْูุญَِّู ََููุง ุชَุชَّุจِุนُูุง ุฃََْููุงุกَ َْููู ٍ َูุฏْ ุถَُّููุง ู ِْู َูุจُْู َูุฃَุถَُّููุง َูุซِูุฑًุง َูุถَُّููุง ุนَْู ุณََูุงุกِ ุงูุณَّุจِِูู
Katakanlah, “Hai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” [Al-Mรขidah/5: 77]
Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Barangsiapa mengikuti hawa nafsu manusia setelah mereka mengetahui agama Islam yang Allรขh amanahkan kepada Rasul-Nya untuk membawa agama itu dan juga setelah mengetahui petunjuk Allรขh yang telah dijelasakan kepada para hamba-Nya, berarti dia berada dalam kedudukan ini (yaitu sebagai pengikut hawa nafsu-pen).
Oleh karena itu para Salaf menamakan ahli bid’ah dan orang-orang yang berpecah-belah, orang-orang yang menyelisihi al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah (al-Hadits) sebagai ahlul ahwa’ (orang-orang yang mengikuti hawa nafsu).
Karena mereka menerima apa yang mereka sukai dan menolak apa yang mereka benci dengan dasar hawa nafsu (kesenangan semata-pen), tanpa petunjuk dari Allรขh Azza wa Jalla ”[4].
๐ฎ. ๐๐ฎ๐ต๐ฎ๐๐ฎ ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ถ๐ธ๐๐๐ถ ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐ก๐ฎ๐ณ๐๐
Orang yang mengikuti hawa nafsu tidak akan mementingkan agamanya dan tidak mendahulukan ridha Allรขh dan Rasul-Nya.
Dia akan selalu menjadikan hawa nafsu menjadi tolok ukurnya.
Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Fondasi agama (Islam) adalah mencintai karena Allรขh dan membenci karena Allรขh, mendukung karena Allรขh dan menjauhi karena Allรขh, beribadah karena Allรขh, memohon pertolongan kepada Allรขh, takut kepada Allรขh, berharap kepada Allรขh, memberi karena Allรขh, dan menghalangi karena Allรขh.
Ini hanya dapat dilakukan dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena perintah Rasรปlullรขh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perintah Allรขh Azza wa Jalla , larangannya adalah larangan Allรขh Subhanahu wa Ta’ala , memusuhinya berarti memusuhi Allรขh, mentaatinya sama dengan mentaati Allรขh dan mendurhakainya sama dengan mendurhakai Allรขh Azza wa Jalla .
Bahkan orang yang mengikuti hawa nafsunya telah dibuat buta dan tuli oleh hawa nafsunya.
Sehingga dia tidak bisa memperhatikan dan melaksanakan apa yang menjadi hak Allรขh dan Rasul-Nya dalam hal itu, dan dia tidak mencarinya.
Dia tidak ridha karena ridha Allรขh dan Rasul-Nya, dia tidak marah karena kemarahan Allรขh dan Rasul-Nya.
Tetapi dia ridha jika mendapatkan apa yang diridhai oleh hawa nafsunya, dan marah jika mendapatkan apa yang membuat hawa nafsunya marah”.[5]
Dengan demikian maka mengikuti hawa nafsu akan menyeret pelaku kepada kesesatan dan kerusakan.
Sebab timbulnya bid’ah adalah hawa nafsu, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam, “Permulaan bid’ah adalah mencela Sunnah (ajaran Nabi) dengan dasar persangkaan dan hawa nafsu (sebagaimana bibit kemunculan golongan Khawarij-pen),
sebagaimana Iblis mencela perintah Allรขh (saat diperintahkan sujud kepada Adam) dengan fikirannya dan hawa nafsunya”[6].
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudah mengingatkan bahwa mengikuti hawa nafsu akan membawa kehancuran.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ุซََูุงุซٌ ู َُِْูููุงุชٌ َู ุซََูุงุซٌ ู ُْูุฌَِูุงุชٌ َูุฃَู َّุง ุซََูุงุซٌ ู َُِْูููุงุชٌ: ุดُุญٌّ ู ُุทَุงุนٌ َู ًَููู ู ُุชَّุจَุนٌ َูุฅِุนْุฌَุงุจُ ุงْูู َุฑْุกِ ุจَِْููุณِِู ู ุซََูุงุซٌ ู ُْูุฌَِูุงุชٌ : ุฎَุดَْูุฉُ ุงَِّููู ِูู ุงูุณِّุฑِّ ูุงูุนูุงููุฉِ َูุงَْููุตْุฏُ ِูู ุงَْْูููุฑِ َูุงْูุบَِูู َูุงْูุนَุฏُْู ِูู ุงْูุบَุถَุจِ َูุงูุฑِّุถَุง
Tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Adapun tiga perkara yang membinasakan adalah: kebakhilan dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang membanggakan diri sendiri. Sedangkan tiga perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allรขh di waktu sendirian dan dilihat orang banyak, sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan, dan (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan ridha.
[Hadits ini diriwayatkan dari Sahabat Anas, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Aufa, dan Ibnu Umar Radhiyallahu anhum.
Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan oleh syaikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahรขdรฎts ash-Shahihah, no. 1802 karena banyak jalur periwayatannya]
Demikian juga bahaya mengikuti hawa nafsu adalah mendatangkan kesusahan dan kesempitan ๐ต๐ฎ๐๐ถ .
Syaikhul Islam berkata, “Barangsiapa mengikuti hawa nafsunya, seperti mencari kepemimpinan dan ketinggian (dunia-pen), keterikatan hati dengan bentuk-bentuk keindahan (kecantikan, ketampanan, dan lain-lain-pen),
atau (usaha) mengumpulkan harta, di tengah usahanya untuk mendapatkan hal itu dia akan menemui rasa susah, sedih, sakit dan sempit hati, yang tidak bisa diungkapkan.
Dan kemungkinan hatinya tidak mudah untuk meninggalkan keinginannya, dan dia tidak mendapatkan apa yang menggembirakannya.
Bahkan dia selalu berada di dalam ketakutan dan kesedihan yang terus menerus.
Jika dia mencari sesuatu yang dia sukai, maka sebelum dia mendapatkannya, dia selalu sedih dan perih karena belum mendapatkannya.
Jika dia sudah mendapatkannya, maka dia takut kehilangan atau ditinggalkan (sesuatu yang dia sukai itu)[7]
๐ฏ. ๐ ๐ฒ๐ป๐๐ป๐ฑ๐๐ธ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐ก๐ฎ๐ณ๐๐
Maka untuk meraih keselamatan, orang yang mengikuti hawa nafsu harus menerapi dirinya dengan rasa ๐๐ฎ๐ธ๐๐ ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐๐น๐น๐ฎ̂๐ต ๐๐๐๐ฎ ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐น๐น๐ฎ
sehingga akan menghentikannya dari mengikuti hawa nafsunya.
Demikian juga perlu ๐ฑ๐ถ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ถ๐น๐บ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐๐ถ๐ธ๐ถ๐ฟ.
Dengan keduanya maka hawa nafsu akan terpental.
Jika rasa takut kepada Allรขh Azza wa Jalla sudah tertanam di dalam hati, maka hati akan bisa memahami dan melihat kebenaran sebagaimana mata yang melihat benda-benda dengan sinar terang matahari.
Allรขh Azza wa Jalla berfirman:
َูุฃَู َّุง ู َْู ุฎَุงَู ู ََูุงู َ ุฑَุจِِّู َََูููู ุงَّْูููุณَ ุนَِู ุงََْٰูููู ﴿ูคู ﴾ َูุฅَِّู ุงْูุฌََّูุฉَ َِูู ุงْูู َุฃَْٰูู
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). [An-Nazi’at/79: 40-41]
Semoga Allรขh selalu membimbing hati kita sehingga sellau mampu menundukkan hawa nafsu dengan sebaik-baiknya.
Hanya Allรขh tempat memohon pertolongan.
๐ข๐น๐ฒ๐ต : ๐จ๐๐๐ฎ๐ฑ๐ ๐๐ฏ๐ ๐๐๐บ๐ฎ’๐ถ๐น ๐ ๐๐๐น๐ถ๐บ ๐ฎ๐น-๐๐๐๐ฎ๐ฟ๐ถ
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
๐๐ผ๐ผ๐๐ป๐ผ๐๐ฒ
[1] Majmรป’ Fatรขwรข, 28/132
[2] Majmรป’ Fatรขwรข, 4/189
[3] Tafsรฎr Ibnu Katsir, 3/323
[4] Majmรป’ Fatรขwรข, 4/190
[5] Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, 5/255-256
[6] Majmรป’ al-Fatรขwรข, 3/350
[7] Majmรป’ al-Fatรขwรข, 10/651
๐ข๐น๐ฒ๐ต : ๐จ๐๐๐ฎ๐ฑ๐ ๐๐ฏ๐ ๐๐๐บ๐ฎ’๐ถ๐น ๐ ๐๐๐น๐ถ๐บ ๐ฎ๐น-๐๐๐๐ฎ๐ฟ๐ถ
____________________________